Kamis, 29 Juni 2023

Sosial Media Research dan Analytic





Melakukan Riset untuk Sosial Media

Social media research adalah proses mengumpulkan dan menganalisis data dari platform media sosial untuk memahami audiens, kompetitor, dan tren pasar yang berkaitan dengan bisnis atau organisasi. Beberapa hal yang bisa kamu lakukan dalam melakukan riset untuk sosial media:
A. Penelitian Audiens

Social media research dapat membantu bisnis atau organisasi untuk memahami audiens mereka, seperti siapa mereka, apa yang mereka sukai, dan bagaimana mereka berinteraksi dengan brand. Data audiens dapat dianalisis dengan memperhatikan faktor seperti demografi, perilaku, minat, dan preferensi. Beberapa metode yang dapat digunakan antara lain:Survei: melakukan survei dengan menggunakan alat seperti Google Forms atau survei berbayar untuk mempelajari preferensi, perilaku, dan karakteristik audiens. Contohnya adalah survei yang dilakukan oleh Airbnb untuk memahami preferensi pengguna tentang tujuan wisata.
Analisis Hashtag: mempelajari penggunaan hashtag oleh audiens untuk memahami minat dan topik yang diminati oleh mereka. Misalnya adalah analisis hashtag yang dilakukan oleh BeautyCounter untuk memahami preferensi pelanggan mereka tentang produk perawatan kulit.
Sosial Media Listening: memonitor dan menganalisis percakapan di media sosial untuk memahami apa yang diucapkan dan diinginkan oleh audiens. Contoh adalah analisis sosial media listening yang dilakukan oleh Microsoft untuk memahami cara pengguna merespon produk dan layanan mereka.


Contoh: The Body Shop menggunakan social media research untuk memahami audiens mereka dengan melihat faktor-faktor seperti jenis kelamin, usia, dan minat mereka di platform media sosial. Dengan informasi ini, The Body Shop dapat menciptakan konten yang lebih relevan dan menargetkan pengiklanan mereka dengan lebih baik.
B. Penelitian Kompetitor

Social media research juga dapat membantu bisnis atau organisasi untuk memahami kompetitor mereka, seperti apa yang mereka lakukan di media sosial dan bagaimana mereka menargetkan audiens mereka. Data ini dapat dianalisis dengan memperhatikan faktor seperti taktik pemasaran, jenis konten yang diposting, dan engagement rate. Beberapa metode yang bisa dilakukan seperti:Analisis Konten: memeriksa jenis dan kualitas konten yang diposting oleh pesaing di media sosial untuk mempelajari strategi mereka. Contohnya adalah analisis konten yang dilakukan oleh Adidas untuk mempelajari strategi pemasaran digital pesaing mereka, Nike.
Analisis Channel & Aktivitas: mempelajari beragam media dan aktivitas seperti campaign yang dimiliki oleh kompetitor. Misalnya, melihat beragam testimoni, user generated content, maupun aktivitas campaign yang dijalankan bersama influencer.
Analisis Data Sosial Media Listening: memonitor dan menganalisis percakapan di media sosial yang berkaitan dengan pesaing untuk memahami preferensi, kebiasaan, dan tindakan mereka. Contohnya adalah analisis sosial media listening yang dilakukan oleh Nestle untuk memahami minat dan preferensi konsumen terhadap merek mereka dan pesaing.


Contoh: Coca-Cola menggunakan social media research untuk memantau dan mempelajari apa yang dilakukan pesaing mereka, seperti Pepsi dan Dr Pepper. Dengan memahami taktik dan jenis konten yang digunakan oleh pesaing, Coca-Cola dapat menciptakan strategi pemasaran yang lebih efektif dan menarik bagi audiens mereka.
C. Penelitian Trend Pasar

Social media research juga dapat membantu bisnis atau organisasi untuk memahami tren dan perkembangan pasar yang berkaitan dengan produk atau layanan mereka. Data ini dapat dianalisis dengan memperhatikan faktor seperti kata kunci, topik, dan hashtag yang populer di media sosial. Beberapa tools atau metode yang bisa kamu gunakan seperti:Google Alert adalah alat yang memungkinkan pengguna untuk menerima pemberitahuan langsung ketika ada berita atau artikel yang terkait dengan kata kunci tertentu.
Google Trends adalah alat yang memungkinkan pengguna untuk melihat popularitas kata kunci tertentu seiring waktu.
Hashtag Trending adalah fitur di twitter yang bisa kamu monitor untuk mengetahui trend dan kata kunci yang sedang ramai diperbincangkan.


Contoh: Sephora menggunakan social media research untuk memahami tren kecantikan yang populer dan memahami apa yang diinginkan oleh konsumen mereka. Dengan menggunakan data dari platform media sosial, Sephora dapat menciptakan produk baru dan kampanye pemasaran yang lebih efektif untuk menjangkau audiens mereka.
Sosial Media Reporting & Analytics

Data driven sangat penting dalam membuat konten sosial media karena dengan data yang terkumpul, kita dapat membuat keputusan yang lebih baik dalam memilih konten yang tepat untuk target audience. Data dari reporting dapat memberikan wawasan tentang jenis konten apa yang paling efektif dalam menarik perhatian dan berinteraksi dengan target audience.

Beberapa tahapan yang bisa kamu lakukan dalam membuat Social Media Reporting yang baik yakni:
A. Menentukan Metrik Utama

Sebelum membuat laporan, tentukan terlebih dahulu metrik utama yang ingin diukur. Metrik utama ini dapat berbeda-beda tergantung pada tujuan bisnis yang ingin dicapai.


Beberapa contoh metrik utama di sosial media adalah jumlah followers, reach, impression, like, comment, share, save, engagement rate dan conversion rate. Tulis juga kapan kamu memposting sebuah konten agar bisa melacak perkembangannya.
B. Menentukan Waktu Pelaporan

Tentukan waktu pelaporan yang rutin, misalnya bulanan, per quarter, atau per semester. Hal ini akan membantu agar laporan menjadi lebih terstruktur dan mudah dipahami.


Sebaiknya, kamu membuat reporting secara rutin. Mulai dari menuliskan kapan kamu membuat konten hingga kapan mencatat data hasil dari kontennya. Gunakan excel, spreadsheet atau tools social media untuk membantu kamu membuat pelaporan ini.
C. Analisis dan Evaluasi Laporan

Analisis dan evaluasi laporan secara rutin akan membantu dalam memahami performa sosial media dan menemukan area yang perlu ditingkatkan. Dalam proses analisis, gunakan data historis / benchmarking sebagai bahan perbandingan untuk menentukan tren dan mencari insight.

Contoh: Sebuah perusahaan e-commerce menjalankan kampanye di media sosial. Mereka memutuskan untuk membuat laporan bulanan untuk mengukur performa kampanye tersebut. Metrik utama yang ditentukan adalah jumlah followers, reach, dan conversion rate.


Dalam setiap akhir bulan, mereka mencatat jumlah followers dan reach pada spreadsheet yang telah disiapkan. Mereka juga mencatat data konversi yang diperoleh dari kampanye tersebut. Setelah data terkumpul, mereka membuat grafik yang menunjukkan trend pertumbuhan followers dan reach. Mereka juga membuat grafik yang membandingkan conversion rate bulan lalu dengan bulan ini. Dalam proses evaluasi, mereka menemukan bahwa kampanye mereka lebih efektif dalam meningkatkan jumlah followers dan reach, namun conversion rate masih perlu ditingkatkan.
Menganalisa Hasil Reporting pada Social Media

Berikut adalah cara melakukan analisis konten social media berdasarkan sebuah report dengan contoh detail dari brand nyata:
A. Pelajari Metrics Utama

Pertama-tama, pelajari metrik utama yang terdapat dalam laporan, seperti jumlah follower, tingkat keterlibatan, reach, dan konversi. Dalam analisis konten, fokus pada metrik yang berhubungan langsung dengan konten, seperti jumlah postingan, jenis konten, dan interaksi yang dihasilkan.
B. Analisis Jenis Konten

Lihat jenis konten yang paling efektif dalam membangun keterlibatan dan meningkatkan jumlah interaksi, seperti gambar, video, atau konten teks. Analisis ini dapat membantu untuk menentukan jenis konten yang seharusnya diunggah dan memberikan ide untuk strategi konten yang lebih baik di masa depan.
C. Analisis Top & Low Performing Posts

Lihat top dan low postingan berdasarkan metrik seperti engagement rate dan buat perkiraan apa yang membuat mereka bagus/tidak. Periksa dari segi jenis konten, caption, waktu posting, dan faktor lainnya yang berdampak pada engagement.

Contoh Analisa Laporan Social :

Sebuah perusahaan fashion online bernama Zalora memiliki laporan bulanan mengenai media sosial mereka. Dalam laporan tersebut, mereka memantau metrik utama seperti jumlah follower, reach, dan engagement rate. Setelah menganalisis laporan, mereka menemukan bahwa konten yang paling efektif dalam membangun keterlibatan dan meningkatkan interaksi adalah postingan tentang produk baru dan promosi khusus.


Dalam analisis jenis konten, Zalora menemukan bahwa gambar produk memiliki engagement rate yang lebih tinggi daripada video atau postingan teks. Mereka juga menemukan bahwa konten yang menggunakan tampilan gaya hidup yang menarik, seperti model memakai produk Zalora, memiliki engagement rate yang lebih tinggi daripada postingan dengan hanya gambar produk saja.

Selain itu, Zalora juga menemukan bahwa penggunaan hashtag dan kata kunci pada caption postingan sangat penting dalam meningkatkan engagement rate. Hashtag dan kata kunci seperti #ZaloraStyleEdit dan #FashionFriday sering digunakan dan memberikan hasil yang baik dalam membangun engagement pada postingan.

Dalam analisis top posts, Zalora menemukan bahwa postingan tentang diskon dan promosi khusus mendapatkan engagement rate tertinggi. Mereka juga menemukan bahwa waktu posting mempengaaruhi engagement rate, dengan postingan pada hari kerja dan waktu sore hari memiliki tingkat engagement yang lebih tinggi.


Dari analisis ini, Zalora dapat membuat strategi konten yang lebih baik di masa depan dengan fokus pada gambar produk dan promosi khusus, serta mengoptimalkan penggunaan hashtag dan kata kunci pada caption postingan.

Social Media Campaign



Membuat campaign di sosial media merupakan hal yang penting bagi brand untuk membangun interaksi dengan audiens dan mempromosikan value dari brand. Beberapa alasan mengapa campaign di sosial media penting antara lain:
  1. Meningkatkan brand awareness: Dengan membuat campaign di sosial media, brand dapat meningkatkan kesadaran akan keberadaan brand di kalangan audiens. Campaign yang unik dan menarik dapat membuat audiens lebih tertarik untuk mengenal brand lebih jauh.
  2. Meningkatkan engagement: Campaign di sosial media dapat membantu brand untuk berinteraksi dengan audiens dan membangun engagement yang lebih baik. Hal ini dapat meningkatkan loyalitas dan kepercayaan audiens terhadap brand.
  3. Memperluas jangkauan: Sosial media memiliki potensi untuk menjangkau audiens yang lebih luas dibandingkan dengan media tradisional. Dengan membuat campaign di sosial media, brand dapat memperluas jangkauannya dan menjangkau audiens yang lebih banyak.
  4. Meningkatkan konversi: Campaign di sosial media dapat membantu brand untuk meningkatkan konversi dengan cara yang lebih efektif. Melalui campaign yang menarik dan relevan, brand dapat membujuk audiens untuk melakukan tindakan yang diinginkan, seperti membeli produk atau layanan yang ditawarkan.

Contoh dari brand yang berhasil membangun interaksi dengan audiens dan mempromosikan value dari brand melalui campaign di sosial media antara lain:

  • Campaign social media dari Apple #ShotOniPhone, yang mengajak pengguna iPhone untuk membagikan foto yang diambil menggunakan kamera iPhone. Dalam campaign ini, Apple mempromosikan kualitas kamera iPhone dan juga membangun interaksi dengan pengguna iPhone dengan menyertakan fitur repost foto terbaik dari pengguna di akun resmi Apple di Instagram dan Twitter.
  • Sementara itu, Amazon memiliki beberapa campaign social media yang sukses, salah satunya adalah #DeliveringSmiles, yang mengajak pengguna untuk membagikan foto saat mereka menerima paket dari Amazon dan merasakan kebahagiaan dari pengiriman barang tersebut. Campaign ini sukses membangun interaksi dengan pengguna dan juga mempromosikan kualitas pelayanan dan pengiriman dari Amazon.

Kedua brand tersebut menunjukkan betapa pentingnya campaign social media dalam membangun interaksi dengan audiens dan mempromosikan value dari brand mereka. Dengan campaign yang kreatif dan mengikuti tren, brand-brand ini dapat menciptakan hubungan yang lebih dekat dengan pengguna mereka dan memperluas jangkauan bisnis mereka melalui platform sosial media.

Ragam Taktik Merilis Campaign Social Media

Diperlukan taktik yang jitu untuk menarik minat audiens dan membangun buzz atau keramaian di sosial media. Contoh taktik yang umum digunakan dalam meluncurkan campaign di sosial media adalah dengan membuat teaser, reveal hingga action.

A. Teaser Phase

Tahap teaser phase adalah tahap di mana brand membangun ekspektasi pada audiens mengenai campaign yang akan diluncurkan. Brand bisa memberikan petunjuk-petunjuk kecil mengenai campaign tersebut, tanpa mengungkapkan secara detail apa yang akan terjadi. Hal ini bertujuan untuk membuat audiens penasaran dan tertarik untuk mengetahui lebih banyak.

Contoh nyata: Pada tahun 2020, brand sportswear Nike meluncurkan campaign “You Can’t Stop Us” dengan teaser phase yang menampilkan potongan-potongan video dari atlet-atlet terkenal yang sedang berlatih. Nike menambahkan tagline “You Can’t Stop Us” di akhir video dan mengarahkan audiens ke halaman landing page yang menyatakan “Coming Soon”.

B. Reveal Phase

Setelah audiens penasaran dengan campaign yang akan diluncurkan, tahap selanjutnya adalah melakukan reveal mengenai campaign tersebut. Brand bisa melakukan reveal melalui berbagai cara, seperti mengunggah video pendek, melakukan live streaming, atau membagikan poster promosi.

Contoh nyata: Setelah tahap teaser phase pada campaign “You Can’t Stop Us”, Nike melakukan reveal dengan mengunggah video 1 menit yang menampilkan atlet-atlet terkenal yang sedang berlatih. Video tersebut berfokus pada pesan yang ingin disampaikan oleh Nike mengenai tekad dan semangat dalam meraih keberhasilan.

C. Main Content

Tahap content adalah tahap di mana brand membagikan informasi dan konten yang berkaitan dengan campaign. Brand bisa membuat berbagai jenis konten, seperti video, gambar, artikel blog, atau podcast. Hal ini bertujuan untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan dan menarik minat audiens.

Contoh nyata: Setelah melakukan reveal, Nike membuat berbagai jenis konten yang berkaitan dengan campaign “You Can’t Stop Us”, seperti video di balik layar proses pembuatan campaign, konten-konten inspiratif mengenai atlet-atlet terkenal yang berjuang untuk meraih keberhasilan, serta merchandise yang dijual untuk mendukung campaign tersebut.

D. Call to Action

Tahap action adalah tahap di mana audiens diajak untuk melakukan sesuatu, seperti membeli produk, mengikuti akun sosial media, atau berpartisipasi dalam kompetisi. Hal ini bertujuan untuk mengubah buzz dan excitement menjadi tindakan nyata dari audiens.

Contoh nyata: Nike melakukan tahap action dengan mengarahkan audiens untuk membeli merchandise “You Can’t Stop Us”, atau berpartisipasi dalam tantangan di media sosial dengan menggunakan tagar #YouCantStopUs. Brand juga melakukan kampanye donasi untuk membantu atlet-atlet yang terkena dampak pandemi COVID-19 melalui organisasi nirlaba.

Merancang Campaign Planning di Social Media dari Awal

Membuat campaign planning amat penting karena kampanye yang tidak direncanakan dengan baik dapat mengakibatkan pesan marketing yang tidak solid, hasil yang tidak optimal hingga boros sumber daya waktu dan dana. Dengan melakukan campaign planning yang rapi, brand dapat mendorong kampanye yang diluncurkan sesuai dengan tujuan brand dan mampu mencapai target audience dengan optimal. Berikut adalah cara membuat campaign planning di sosial media yang bisa kamu terapkan:

A. Menentukan Key Theme

Pilih tema yang relevan dengan produk atau layanan yang ingin dipromosikan. Misalnya, perusahaan kosmetik dapat memilih tema “kecantikan alami” sebagai key theme kampanye mereka.

B. Menentukan Objective

Tentukan tujuan yang ingin dicapai dari kampanye di sosial media. Misalnya, meningkatkan brand awareness, meningkatkan penjualan, atau memperkenalkan produk baru.

C. Menentukan Key Highlight

Pilih poin-poin penting yang ingin disampaikan dalam kampanye di sosial media. Misalnya, produk kosmetik yang mengandung bahan alami, tidak mengandung bahan kimia berbahaya, atau ramah lingkungan.

D. Menentukan Key Message

Pilih pesan inti yang ingin disampaikan dalam kampanye. Pesan ini harus sesuai dengan key theme dan key highlight yang telah dipilih. Misalnya, pesan inti “kecantikan alami adalah kunci kecantikan sejati” dapat menjadi key message dalam kampanye tersebut.

E. Menentukan Channel

Pilih platform sosial media yang paling sesuai dengan target audience. Misalnya, jika target audience adalah wanita usia 18–35 tahun, Instagram dan Facebook bisa menjadi pilihan yang tepat.

Contoh kampanye di sosial media adalah kampanye “Share A Coke” dari Coca-Cola. Key theme kampanye ini adalah “personalisasi” di mana nama pengguna akan dicetak pada botol Coke. Objective kampanye ini adalah meningkatkan penjualan dan brand awareness. Key highlight dari kampanye ini adalah botol Coke yang dipersonalisasi dengan nama pengguna. Key message kampanye ini adalah “Share a Coke with…” yang mengajak orang untuk berbagi momen bersama orang terdekat. Channel yang digunakan adalah Instagram dan Twitter, di mana pengguna dapat membagikan foto botol Coke mereka dengan hashtag #shareacoke. Kampanye ini sukses dengan penjualan yang meningkat dan brand awareness yang lebih tinggi.

Sabtu, 24 Juni 2023

Sosial Media Tools

 


Mengenal Social Media Listening

Social media listening adalah proses memonitor aktivitas di media sosial untuk memahami pandangan, pendapat, dan sentimen audiens tentang sebuah brand, produk, atau topik tertentu. Hal ini dilakukan dengan mengumpulkan dan menganalisis data yang dihasilkan oleh pengguna di berbagai platform media sosial, termasuk Facebook, Twitter, Instagram, LinkedIn, dan lainnya.

Manfaat dari social media listening dapat dibagi menjadi tiga yaitu:

  1. Campaign analysis: Melalui social media listening, marketer dapat memantau kinerja kampanye sosial media mereka. Mereka dapat melihat berapa banyak engagement, jumlah mention, sentimen dan opini audiens terhadap kampanye mereka, sehingga mereka dapat mengukur keberhasilan kampanye mereka dan membuat perubahan jika perlu.
  2. Competitor analysis: Social media listening juga membantu marketer untuk memantau dan menganalisis aktivitas pesaing di media sosial. Mereka dapat mempelajari strategi pesaing dan mencari tahu apa yang mereka lakukan dengan baik dan tidak baik, sehingga mereka dapat mengambil keputusan yang tepat untuk merek mereka sendiri.
  3. Industry trends: Social media listening juga membantu marketer untuk memantau tren dan perkembangan di industri mereka. Mereka dapat memantau topik-topik terkait dan mengambil tindakan yang tepat untuk tetap relevan dan bersaing.

Strategi untuk Social Media Listening

Berikut adalah beberapa strategi efektif untuk melakukan social media listening beserta contohnya:

A. Tentukan Tujuan

Sebelum memulai social media listening, tentukan terlebih dahulu tujuan apa yang ingin dicapai. Apakah ingin mengetahui bagaimana audiens merespons brand atau ingin mengawasi kegiatan pesaing di media sosial. Setelah tujuan ditetapkan, fokus pada metrik yang sesuai dengan tujuan tersebut.

B. Gunakan Tools Listening

Ada banyak tools yang dapat digunakan untuk social media listening seperti Hootsuite Insights, Google Alerts, Brandwatch, dan lainnya. Gunakan tools tersebut untuk memantau setiap percakapan tentang brand atau pesaing di media sosial.

C. Pantau Hashtag

Hashtag adalah cara yang efektif untuk memantau apa yang dibicarakan tentang brand atau topik tertentu. Pantau hashtag yang terkait dengan brand atau topik yang ingin dipantau, dan pelajari apa yang diungkapkan audiens.

D. Analisis Sentimen

Analisis sentimen membantu menentukan apakah percakapan tentang brand atau topik tertentu positif, negatif, atau netral. Gunakan tools yang dapat menganalisis sentimen dan gunakan informasi tersebut untuk mengubah strategi atau taktik dalam kampanye sosial media.

Berikut adalah 5 tools untuk melakukan social media listening dan sentiment analysis:

  1. Hootsuite Insights: Hootsuite Insights adalah sebuah platform analisis media sosial yang memungkinkan pengguna untuk melacak dan memantau percakapan di media sosial untuk memahami sentimen audiens, memantau merek, serta menganalisis pesaing.
  2. Brandwatch: Brandwatch adalah platform social listening yang menyediakan fitur-fitur analisis sosial media, memantau media online, serta melakukan analisis sentimen untuk membantu pengguna memahami audiens, menganalisis pesaing, serta mengukur kinerja kampanye.
  3. Mention: Mention adalah sebuah platform monitoring media sosial yang memungkinkan pengguna untuk memantau brand mereka, pesaing, serta memantau tren dan topik terkait industri. Platform ini juga menyediakan fitur analisis sentimen, dan menampilkan data dalam bentuk grafik yang mudah dipahami.
  4. Sprout Social: Sprout Social adalah platform manajemen media sosial yang juga menyediakan fitur social listening dan analisis sentimen. Platform ini dapat membantu pengguna memantau merek mereka, memahami audiens, serta mengukur efektivitas kampanye mereka.
  5. Talkwalker: Talkwalker adalah platform social listening yang menyediakan fitur-fitur analisis media sosial, termasuk memantau merek, pesaing, serta memantau topik terkait industri. Platform ini juga memiliki fitur analisis sentimen yang akurat, serta menampilkan data dalam bentuk visual yang mudah dipahami.

Contoh: Sebuah brand mode wanita ingin mengetahui bagaimana audiens merespons kampanye sosial media mereka. Mereka menggunakan Hootsuite Insights untuk memantau percakapan tentang brand mereka di media sosial. Dari data yang dikumpulkan, mereka menemukan bahwa audiens sangat menyukai kampanye mereka dan memposting foto mereka dengan produk brand. Dengan informasi ini, brand tersebut membuat konten yang lebih banyak menampilkan produk mereka dalam tindakan sehari-hari dengan harapan dapat meningkatkan keterlibatan audiens.

Beragam Tools untuk Social Media

Dengan menggunakan beragam tools, brand akan bisa mendapatkan banyak benefit seperti:

A. Mempercepat proses publishing:

Dengan tools social media untuk publishing, dapat membuat dan menjadwalkan postingan untuk dipublish secara otomatis tanpa perlu membuka platform sosial media satu per satu. Hal ini dapat menghemat waktu dan tenaga dalam manajemen konten.

Contoh tools: Hootsuite, Buffer, Sprout Social

B. Meningkatkan efektivitas strategi:

Tools social media untuk analytics dapat membantu dalam memahami performa konten dan strategi yang diterapkan. Melalui data yang terkumpul, dapat dianalisis performa konten yang sudah dipublish, dimana audience berada, serta informasi penting lainnya yang dapat membantu dalam mengoptimalkan strategi dan meningkatkan efektivitas kampanye.

Contoh tools: Google Analytics, Sprout Social, Hootsuite Insights

C. Memantau dan menjaga reputasi brand:

Tools social media untuk monitoring dapat membantu untuk memantau dan menganalisis setiap interaksi dengan audience, baik positif maupun negatif. Hal ini dapat membantu dalam menjaga reputasi brand, serta memberikan kesempatan untuk merespon secara cepat dan tepat ketika terjadi masalah atau keluhan.

Contoh tools: Brandwatch, Mention, Hootsuite Insights

Sebagai contoh, sebuah perusahaan memiliki akun Instagram dan Twitter. Untuk memudahkan dalam mempublish konten, perusahaan tersebut menggunakan tools seperti Hootsuite dan Buffer. Selain itu, perusahaan juga menggunakan tools seperti Google Analytics dan Sprout Social untuk memantau performa konten dan meningkatkan strategi yang sedang dijalankan. Sedangkan untuk monitoring interaksi dengan audience, perusahaan menggunakan tools seperti Brandwatch dan Mention.

Beragam tools social yang populer digunakan untuk mengoptimalkan penggunaan social media:

  1. Google Analytics: merupakan tools analitik website yang dapat digunakan untuk melacak lalu lintas website dari sosial media dan mengetahui kinerja konten di website. Google Analytics juga dapat membantu dalam memperoleh wawasan tentang pengguna, perilaku, dan preferensi mereka.
  2. Buffer: merupakan platform manajemen sosial media yang membantu dalam mengelola konten dan jadwal posting di berbagai platform sosial media, seperti Facebook, Instagram, Twitter, LinkedIn, dan Pinterest. Buffer memungkinkan pengguna untuk menentukan jadwal posting dan mengelola konten secara efisien melalui satu dashboard.
  3. Iconosquare: merupakan tools analitik Instagram yang membantu pengguna untuk melacak kinerja posting, pertumbuhan pengikut, dan interaksi dengan audiens. Iconosquare juga menyediakan fitur penjadwalan posting dan alat kolaborasi tim.
  4. Brand24: merupakan tools media monitoring yang membantu pengguna untuk melacak merek, produk, dan pesaing di seluruh platform sosial media dan web. Brand24 memungkinkan pengguna untuk mengawasi reputasi merek, mengetahui tren terkini, dan mengidentifikasi peluang untuk berinteraksi dengan audiens.

Manfaat dari memiliki tools social media untuk publishing, analytics, dan monitoring adalah:

  1. Membantu dalam mengelola konten dan jadwal posting secara efisien di berbagai platform sosial media.
  2. Memperoleh wawasan tentang pengguna, perilaku, dan preferensi mereka untuk dapat membuat konten yang relevan dan menarik bagi audiens.
  3. Melacak kinerja konten dan memperoleh analitik yang berguna untuk meningkatkan strategi pemasaran dan interaksi dengan audiens.
  4. Memungkinkan pengguna untuk mengawasi merek, produk, dan pesaing di seluruh platform sosial media dan web, sehingga dapat meningkatkan reputasi dan mengidentifikasi peluang baru.

Selasa, 20 Juni 2023

Konsep Digital Marketing

Mengapa harus digital marketing?

Kenapa sih digital marketing begitu penting? maka jawaban yang mendasar adalah "karena pola daya beli konsumen sudah berubah". Betul, perilaku konsumen sudah berubah derastis sejak perkembangan jaman, dan salah satu faktornya adalah kemajuan teknologi. Kemunculan teknologi internet dan ditambah dengan kehadiran smartphone membuat segala aktifitas dapat dilakukan dengan mudahnya mendapatkan informasi yang kita butuhkan dalam waktu singkat. 

Hal inilah yang menjadikan prilaku para konsumen berubah seiring perkembangan jaman. Perkembangan teknologi internet tentu digunakan oleh pebisnis untuk ekspansi pasarnya jauh lebih luas, sehingga mampu dikenal dengan orang banyak. 

"Business without digital marketing is like car without pterol" yang artinya bisnis tanpa digital marketing akan susah dikenal banyak orang, akan jauh lebih effort untuk dikenal dan diterima oleh masyarakat. Orang-orang dimasa sekarang ini sangat mudah mendapatkan segala kebutuhannya, sebagai contoh bersosialisasi. 

Sekarng di internet terdapat bermacam macam platform untuk berkomunikasi diantaranya adalah Facebook, Instagram, Twitter, LinkedIn, dan sebagainya, bisasanya kita sebut sebagai sosial media. Melalui sosial media kita bisa berkomunikasi dengan cepat dan bahakan kita bisa menggunakannya setiap saat di kehidupan kita. Jadi perilaku masyarakat sat ini sangat berubah sangat drastis.

Nah, sekarang yang jadi pertanyaan adalah apakah ada para pebisnis di masa kini sudah beradaptasi dan menjadi relevan dengan adanya perubahan perilaku konsumen tersebut? Pada saat ini sudah banyak pebisnis yang merambah ke dunia digital, jangan sampai Anda sebagai pebisnis belum hadir di dunia digital. 

Kita akan falsback sejenak di tahun 2020 yang lalu, tanpa disangka-sangka muncul pandemi virus Corona. Di antara sekian banyak dampak yang ditimbulkan akibat wabah dari virus tersebut entah kalian sadari atau tidak, proses digitalisasi pada saat itu berkembang lebih cepat dan pesat dalam masyarakat dari yang seharusnya. Hal yang paling sederhana pada saat itu ketika masyarakat belum memahami bahakan tidak pernah menyelenggarakan kegiatan secara virtual dan hanya dilakukan menggunakan aplikasi berbasis digital.

Kegiatan seperti pertemuan, rapat, hingga kegiatan belajar mengajar dapat dilakukan melalui platform digital yang sudah disediakan. Jadi kesimpulan dalam pernyataan ini adalah sebagai pebisnis diharapkan bisa beradaptasi dan menjadi relevan pada perubahn zaman yang semakin kompetitif serta memahami peubahan perilaku konsumen tersebut. 

Pendiri Microsoft dan salah satu pionir dalam industri IT (Information Technology) dunia, yaitu Bill Gates mengatakan "If Your Business Is Not On The Internet, Then Your Business Will Be Out of Business" (Sumber: www.azquotes.com). Apabila diterjemahkan memiliki arti berikut, "Jika Bisnis Anda Tidak Ada Di Internet, Maka Bisnis Anda Akan Gulung Tikar"

Jika di era digitalisasi seperti saat ini pernyataan tersebut memang sangat tepat. Kenapa? karena ketika memiliki sebuah bisnis tetapi tidak ada di internet sama halnya Anda melewatkan peluang yang besar untuk konsumen potensial dan bisa tertinggal jauh oleh kompetitor lainnya yang sudah terjun ke digitalisasi. 

Bahkan jika Anda sedang melihat sebuah acar berita di televisi, banyak perusahaan berlomba-lomba untuk tetap eksis di era digitalisasi untuk memperkenalkan produknya bahakan menjangkau konsumen yang lebih banyak dan potensial. Bahkan brand-brand besar juga bersaing dengan kompetitor lain untuk lebih dikenal oleh masyarakat banyak.

Apakah tidak cukup hanya dengan toko offline? Nah, seperti yang kita bahas diatas, kita harus bisa beradaptasi dan menjadi relevan, memahami pola daya beli konsumen sudah berubah, tidak masalah jika toko offline Anda banyak pengunjung, namun Anda akan melewatkan calon konsumen yang potensial, dan produk atau brand anda tidak bisa dikenal oleh masyarakat. Jadi toko offline dan online juga memiliki peran yang penting dalam berbisnis.

Data Survei Resmi


Berapa jumlah pengguna internet di Indonesia? Nah selanjutnya mari kita membuka data resmi terkait pengguna internet di Indonesia, kita ambil data survei dari laman resmi. Berdasarkan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia mencapai 215,63 juta orang pada periode 2022-2023. 

Jumlah tersebut meningkat 2,67% dibandingkan pada periode sebelumnya yang sebanyak 210,03 juta pengguna. Jumlah pengguna internet tersebut setara dengan 78,19% dari total populasi Indonesia yang sebanyak 275,77 juta jiwa (sumber: apjii.or.id/gudang-data/standar). Dan pastinya jumlah tersebut akan terus bertambah seiiringnya perluasan jaringan internet di Indonesia.

Kini internet makin dipandang sebagai salah satu kebutuhan utama bagi masyarakat moderen. Jika kita tinjau kembali hasil survei diatas, hampir seluruh masyarakat Indonesia sudah terkoneksi jaringan internet dan bahkan sudah menggunakan internet sebagai kebutuhan. 

Hal ini menjadi taerget pasar yang sangat besar dan memiliki prospek bisnis yang sangat bagus untuk berkembangan bisnis di masa depan. Oleh karena itu, mulai dari sekarang kita harus memhami dan berkembang melalui teknologi internet dan memanfaatkan peluang bisnis didalam nya (dalam konteks ini dalah bidang pemasarannya). Dan kita bisa mempromosikan produk kita ke masyarakat agar lebih dikenal luas.

Pengertian Digital Marketing

Baik, setelah beberapa pengantar dan pembahasan di awal, kita mulai saja penulisan artikel ini. Materi yang akan kita bahas pada artikel ini adalah pembelajaran mengenai dunia Digital Marketing. Pertama-tama mari membahas mengenai pengertian Digital Marketing. 

Berbeda dengan pemasaran tradisional yang kegiatan promosinya menggunakan flyer, banner, katalog, baliho, hingga brosur, sebagai sarana pemasarannya. Digital Marketing merupakan segala bentuk aktivitas pemasaran produk atau jasa yang dilakukan secara virtual dengan menggunakan media digital/internet. 

Istilah lain yang berkaitan dengan Digital Marketing diantaranya adalah Internet Marketing, Online Marketing, atau E-Marketing, semua itu merupakan gabungan atau istilah dari Digital Marketing karena aktivitas kegiatan pemasarannya menggunakan media digtal dan internet.


Perlu diketahui bahwa Digital Marketing adalah dalam ranah pemasarannya yang bisa diterapkan untuk berbagai jenis bisnis, baik bisnis offline (toko fisik) ataupun bisnis online, baik itu berjualan produk maupun jasa. 

Ketika suatu bisnis membutuhkan promosi secara virtual, disitulah peran Digital Marketing. Para pakarnya pada bidang ini biasa disebut, Digital Marketer, Internet Marketer, Online Marketer, E-Marketer.


Tujuan Digital Marketing

Kemudian memunculkan sebuah pertanyaan, apa sebenarnya tujuan dari melakukan Digital Marketing? Tujuan dari melakukan Digtal Marketing adalah untuk mendatangkan Traffic yang tertarget dan Traffic yang berkualitas ke dalam sebush bisnis. Istilah gampangnya adalah mendatangkan pembeli potensial ke dalam bisnis kalian, melalui promosi-promsi  yang dijalankan melalui berbagai media digital. 

Traffic dalam dunia Digital Marketing bisa diartikan sebagai Lalu Lintas Kunjungan, atau bisa dikatakan juga sebagai pengunjung yang datang ke dalam bisnis kalian, bahkan mengunjungi penawaran yang telah kalian buat.

Jadi, segala upaya kegiatan promosi atau kampanye yang dibuat dan dijalankan, baik lewat website, sosial media, e-commerece, maupun melalui media digital lainnya, semata-mata untuk mendatangkan dan menaikkan sebanyak mungkin traffic pengunjng ke dalam bisnis kalian.

Tetapi perlu di ingat juga, bahwa bukan hanya traffic semata, melainkan traffic atau pengunjung yang berkualitas alias pengunjung yang tertarget (Targeted Traffic). Sebagai contoh anda menjual piano, tentunya target pasar kalian adalah orang yang menyukai piano, memiliki kebutuhan akan piano, menyukai musik, atau orang yang memang sedang belajar bermain piano. 

Dengan demikian, penting bagi para marketer untuk dapat menemukan traffic atau pengunjung yang tertarget agar penjualannya tepat sasaran dan produk laku ketika dijual.

Selasa, 13 Desember 2022

Mengenal Influencer dan Key Opinion Leader (KOL) dalam Strategi Digital Marketing

 


INFOPEDIA - Halo marketers, di artikel kali ini kami akan membahas tentang salah satu startegi pemasaran yaitu KOL, cukup menarik bukan? Perlu diketauhi KOL berbeda dengan KPI, bagi infopedians yang belum tahu tentang KPI silahkan baca di artikel sebelumnya disini.  Meski profesi ini sudah tidak asing lagi, namun tidak banyak orang yang mengetahui perbedaan antara KOL dan influencer. Padahal, kedua pekerjaan ini memiliki peran penting dalam dunia pemasaran digital.

Kehadirannya bahkan sudah menjadi kebutuhan wajib yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Nah, apakah masih bingung tentang perbedaan keduanya? Di bawah ini, kami akan mengulas secara lengkap apa perbedaan antara KOL dan influencer.

Mengenal Influencer



Kalau berbicara tentang influencer tentu tidak bisa dipisahkan dari content creator. Influencer adalah seseorang yang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi orang lain untuk mencoba atau membeli suatu produk. Ikatan yang kuat antara seorang influencer dan pengikutnya bukanlah sekedar lelucon. Satu hal sederhana yang dilakukan seorang influencer yaitu bisa membuat heboh jagat media sosial.

Selain itu, para penggemar influencer juga dikenal cukup loyal dan memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap idolanya. Mereka bahkan rela mengeluarkan uang untuk membeli barang yang dipromosikan oleh influencer. Influencer juga bisa dikatakan sebagai seseorang yang memiliki pengetahuan, wawasan, atau pengaruh tersendiri terhadap suatu bidang atau industri tertentu. Mereka menjadi trend-setter dan memiliki "suara" yang powerfull untuk mempengaruhi audiens atau pengikut mereka. Biasanya seorang influencer memiliki banyak platform media sosial sebagai sarana eksistensi sekaligus menjalin hubungan dengan para pengikutnya seperti Facebook, Instagram, Twitter, TikTok, dan YouTube.

Dalam menghabiskan waktu setiap hari, seorang influencer biasanya cenderung memberikan 100% waktunya untuk aktivitas di digital marketing. Mereka terbiasa berusaha membuat banyak jenis konten agar pengikut mereka mengetahui semua aktivitas mereka, sehingga mereka bisa menjangkau pasar yang lebih luas dan membangun engagement yang bagus.


Mengenal KOL (Key Opinion Leader)



KOL atau Key Opinion Leader memiliki kekuatan audiens yang cukup besar. Sama seperti influencer, KOL juga dapat mempengaruhi keputusan pengikutnya untuk membeli produk atau menggunakan suatu layanan. Berbagai pendapat dan sudut pandang dari KOL sangat dipercaya oleh para pengikutnya, tentunya karena dianggap ahli dalam bidang tertentu. Jika seorang influencer sering berinteraksi dengan penggemar secara online melalui platform media sosial, KOL cenderung berbeda. KOL lebih banyak berinteraksi langsung dengan pengikut mereka. Meski pada akhirnya seorang KOL juga sudah banyak yang aktif di media sosialnya.

Adapun, cara membangun persona dan kredibilitas seorang KOL biasanya didapat dari pengalamannya di dunia nyata, atau di bidang industri yang mereka tekuni. Hal-hal yang mereka tekuni dalam kehidupan sehari-hari menghasilkan keahlian yang membantu karir mereka menjadi KOL. Meski kehadiran KOL biasanya lebih dipercaya, namun jangkauan dari KOL ini tidak begitu luas. Biasanya, mereka memiliki kekuatan audiens yang terbatas. Sedangkan untuk influencer, mereka memiliki cakupan yang lebih luas.

Jika diperhatikan, seorang KOL harus tetap memiliki pekerjaan profesional di dunia nyata. Mereka masih melewatkan waktu dengan melakukan pekerjaan penuh waktu yang telah mereka kuasai selama bertahun-tahun. Sebagai contoh, beberapa KOL masih memiliki profesi seperti dokter, guru, psikolog, pengacara, dan sebagainya. Maka dari itu, dikarenakan profesinya, pendapat dari seorang KOL seringkali dinilai sangat valid.

Sedangkan, menurut berbagai sumber artikel mengatakan, Key Opinion Leader adalah seseorang yang dapat menggiring opini seseorang untuk melakukan pembelian atau transaksi. Seorang KOL mempunyai keahlian spesifik yang membuat opini mereka valid. Sebab, opini yang dikeluarkan oleh seorang KOL didasari oleh fakta dan bukti yang kuat berdasarkan spesialisasi masing-masing.

Menurut hasil survei dari Nielsen, 92% masyarakat lebih memercayai rekomendasi yang diberikan dari keluarga atau kerabat dibandingkan dengan iklan. Hal ini pula yang memperkuat keberadaan KOL sebagai bagian dari social media marketing. 


Perbedaan Influencer dengan Key Opinion Leader (KOL)


Pada dasarnya, influencer maupun Key Opinion Leader (KOL) sama-sama individu yang pendapatnya memberi pengaruh besar atas suatu produk, jasa, layanan, maupun brand, dan rekomendasi mereka berdampak pada keinginan konsumen untuk memiliki produk yang sama. Hanya saja, tetap ada perbedaan signifikan antara keduanya, sehingga brand yang hendak mengajak mereka berkolaborasi harus memahami dengan baik perbedaan tersebut. 

Tujuannya, agar campaign digital marketing yang diselenggarakan bisa mencapai target. Memang, perbandingan di antara KOL dan influencer sangatlah tipis. Namun, pada dasarnya baik KOL dan influencer mempunyai pengertian yang berbeda. Apa saja perbedaanya?

1. Media yang Digunakan

Key Opinion Leader (KOL) adalah seseorang yang ahli terhadap industri atau bidang tertentu sehingga pendapatnya didengar. Di dunia nyata, mereka sosok yang dipercaya dan dihormati sehingga komunikasi yang terjadi lebih banyak secara langsung dengan para pengikutnya. Meskipun tak jarang, cukup banyak KOL yang juga menjalin hubungan yang baik melalui sosial media.

Sementara influencer menghabiskan lebih banyak waktunya di dunia online, terutama di berbagai sosial media. Mereka menggunakan platform sosial media tersebut untuk berkomunikasi dengan para pengikut bahkan mempengaruhi mereka dengan berbagai konten digital yang mereka ciptakan.

2. Kredibilitas

Karena keahlian, kemampuan, pengetahuan, dan profesinya, maka kredibilitas KOL berasal dari kehidupannya secara nyata di suatu bidang atau industri, kualifikasi profesionalnya, serta waktu yang mereka habiskan untuk terlibat di suatu bidang tersebut. Kredibilitas dan kepercayaan yang didapatkan influencer dari para pengikutnya berasal dari identifikasi personal yang ditampilkan oleh influencer itu sendiri di akun-akun sosial media yang mereka miliki serta dari preferensi pribadi.

3. Area Pengaruh dan Letak Geografi

Seorang KOL tidak selalu secara aktif berperan sebagai influencer di media sosial. Ketenaran dan kredibilitas profesionalisme mereka hanya dalam wilayah terbatas, misalnya hanya di suatu daerah, kota, atau negara. Tapi jika KOL yang awalnya hanya memiliki ketenaran di wilayah terbatas, kemudian mulai mendapatkan kesempatan untuk berkolaborasi dengan media televisi, media cetak, bahkan ikut aktif di sosial media, tak menutup kemungkinan KOL ini juga berprofesi sebagai influencer.

Sementara influencer yang sangat aktif mengelola konten-konten di sosial media mereka, memiliki kemungkinan untuk punya banyak penggemar dari berbagai wilayah, atau malah memiliki penggemar dari seluruh bagian dunia.

4. Perbedaan Cara Menghabiskan Waktu

Seorang KOL memiliki pekerjaan penuh waktu yang juga sebagai profesi mereka di dunia nyata. Artinya, bisa jadi mereka adalah seorang chef terkenal di sebuah hotel bintang 5, atau seorang dokter ahli bedah, psikolog, lawyer, dan sebagainya. Karena profesinya ini pula, maka sudah pasti pengetahuan dan pendapat mereka tak lagi diragukan oleh audiens yang mengenal mereka.

Sebaliknya, kebanyakan influencer menghabiskan waktu lebih banyak di dunia online. Aktivitas mereka lebih banyak terkait dengan digital marketing. Mereka membutuhkan upaya keras untuk, membuat konten di sosial media, blog, atau YouTube, demi meningkatkan jumlah pengikut mereka sehingga para pengikut bisa terus mengikuti apa yang mereka tampilkan. Bisa dikatakan, inilah profesi atau pekerjaan utama mereka sehingga memiliki spesialisasi dalam hal menyebarkan suatu pesan dengan topik yang mereka kuasai untuk menjangkau pasar yang lebih luas secara online.

5.  Keahlian Dalam Berkomunikasi

Influencer merupakan ahli komunikasi sejati. Ini memang spesialisasi mereka sesuai dengan pengetahuan dan wawasan mereka terhadap suatu topik. Mereka terampil mengkomunikasikan pesan-pesan khusus dengan cara yang sangat menarik sehingga bisa mempengaruhi pengikut mereka untuk melakukan apa yang mereka sarankan.

Sebenarnya, banyak juga Key Opinion Leader (KOL) yang juga memiliki keterampilan berkomunikasi di depan khalayak, khususnya bagi mereka yang sering tampil di televisi, radio, seminar-seminar, dan sebagainya. Masalahnya, untuk mengemas keterampilan komunikasi menjadi menarik seperti yang dilakukan oleh influencer, tidak semua KOL bisa melakukannya. Meski begitu, tak masalah KOL seorang komunikator atau bukan karena apa pun pendapat mereka asalkan sesuatu dengan bidang dan profesi, maka akan banyak audiens yang mempercayainya.


Nah, itulah perbedaan KOL dan influencer. Setelah membaca artikel diatas, Apakah kamu sudah paham perbedaan keduanya?

Sebagai tambahan, jika Influencer lebih tepat untuk meningkatkan sales, maka KOL lebih efektif untuk meningkatkan brand value ataupun brand awareness. Karena, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa KOL yang merupakan seorang expert, akan dipercaya oleh target market sebagai sebuah pernyataan yang valid.

Jadi, jika kamu ingin melakukan promosi menggunakan orang-orang yang memiliki pengaruh tersebut, maka lebih baik tentukan terlebih dahulu tujuan utamanya, apakah untuk meningkatkan penjualan, ataukah untuk menguatkan value dan awareness.